problem-based learning

IMPLEMENTASI PROBLEM-BASED LEARNING

DI PERGURUAN TINGGI

(Kasus di Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Bandung)

Sri Raharso

Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Bandung

Abstract

Demand which is excelsior to college competencies cause educator have to find study process capable to give values claimed by employer. Conventional study ( teacher-centered) felt no longer can answer the challenge. Study base on Problem-Based Learning is its answer. This research succeed to prove that Problem-Based Learning can improve the understanding of Office Management subject.

Keywords: competencies, teacher-centered, problem-based learning.

PENDAHULUAN

Saya mendengar dan saya melupakan

Saya melihat dan saya mengingat

Saya mengerjakan dan saya paham[1]

Pada saat ini, para pemberi kerja mulai melihat adanya penurunan kualitas lulusan perguruan tinggi. Studi yang dilakukan oleh Hongkong Education Commision melaporkan bahwa lulusan perguruan tinggi kurang memiliki kemampuan dalam bidang problem-solving dan kemampuan analitis (Siaw, 2000; Debbie, et. al., 2000). Padahal, salah satu obyektif dari pendidikan tinggi adalah: agar mahasiswa belajar menganalisis dan menyelesaikan masalah (Moust, 2001: 11). Selain itu, temuan studi yang dilakukan Mullen (dalam Siaw, 2000) menyatakan lulusan perguruan tinggi banyak yang tidak memiliki kemampuan personal dan interpersonal. Menurut para pemberi kerja, banyak lulusan yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan (Debbie, et. al., 2000). Reich (dalam Siaw, 2000) mengklaim bahwa keunggulan kompetitif yang sejati dari organisasi bisnis masa depan adalah kemampuan dalam “to solve, identify, and broker new problems”. Dengan perkataan lain, para pemberi kerja mengkuatirkan keunggulan kompetitif organisasi bisnis mereka akan berkurang/stagnan karena tidak memiliki sumber daya manusia yang kompeten.

Dengan demikian, di abad knowledge-based economy ini, peran lulusan perguruan tinggi sangatlah vital. Lulusan perguruan tinggi merupakan calon pemimpin organisasi yang harus bisa mengidentifikasi dan mencari solusi dari masalah-masalah organisasi. Lulusan perguruan tinggi memainkan peran sebagai sumber daya manusia yang akan menjadi kunci dari “economic competitiveness” (Seng, 2000). Menurut Porter (1990), ekonomi suatu negara akan berkembang dengan baik apabila tenaga kerjanya kreatif. Artinya, para lulusan perguruan tinggi juga dituntut untuk memiliki sifat kreatif. Oleh karena itu tidak mengherankan bila Singapura mengambil inisiatif untuk merombak sistem pendidikannya. Goh Chok Tong mengambil inisiatif untuk menghadapi tantangan masa depan dengan semboyan “Thinking Schools, Learning Nation” (Sale, 2000; Seng, 2000).

Masalahnya, di abad ini dan abad-abad berikutnya, terobosan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya serta perubahan yang konstan akan terus berlangsung di semua aspek kehidupan. Dengan demikian para pendidik menghadapi tantangan untuk mengembangkan anak didik agar mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang berlangsung dengan cepat (Seng, 2000). Karena lingkungan bersifat turbulen, maka pendidikan tinggi memerlukan inovasi (Debbie, et. al., 2000). Cara-cara lama yang tidak lagi mampu mengeksplorasi potensi anak didik harus ditinggalkan. Perlu digali cara-cara baru yang bisa menghasilkan lulusan yang mampu menghadapi tantangan dunia kerja yang bersifat dinamis.

Proses pendidikan yang ada pada saat ini dipandang tidak mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dalam “abstract thinking, system thinking, experimentation, and colllaboration” (Siaw, 2000). Pendidikan konvensional yang bersifat lecture-based (atau teacher-centered) tidak mampu mengakomodasi tuntutan industri pengguna lulusan perguruan tinggi (Eng, 2000; Siaw, 2000). Pendidikan konvensional terlalu text-book oriented ( Siaw, 2000).

Jadi, perguruan tinggi harus mampu mengembangkan lulusannya. Tidak hanya lulusan yangmemiliki skill yang dibutuhkan (necessary skills), tetapi juga lulusan yang mampu secara terus menerus belajar tanpa harus diarahkan oleh orang lain (Siaw, 2000). Lulusan perguruan tinggi harus menjadi “lifelong learners”. “We need continuous learning, not continuing education” kata Guy (2003). Mereka harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah(Kwan & Ko, 2000; Siaw, 2000). Lulusan perguruan tinggi harus ditolong agar mereka dapat “hit the ground running” ketika memasuki dunia kerja (Debbie, 2000).

Problem-base learning (PBL) merupakan salah satu jawaban terhadap tantangan tersebut. Sebab, PBL bersifat “perfectly in keeping with contemporary constructivist views of education”. PBL merupakan metode instruksional yang menggunakan kasus-kasus nyata sebagai wahana bagi anak didik dalam mendapatkan kemampuan kritis dan problem-solving. Dalam PBL, pengetahuan baru diperoleh dalam konteks “some meaningful problems or situations”. Anak didik bersikap aktif dalam memecahkan kasus dan membangun “their own understanding” dibawah bimbingan dari tutor. Bukan tutor yang membangun pengertian tersebut untuk anak didiknya (Lai & Tang, 2000).

PERUMUSAN MASALAH

Sebagai sebuah inovasi dalam proses pendidikan, PBL diyakini mampu menghasilkan lulusan yang diinginkan oleh masyarakat pemberi kerja. Akan tetapi, PBL juga menuntut persyaratan tertentu agar prosesnya berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah, adanya partisipasi aktif dari seluruh anak didik (Moust, 2001).

Dalam rangka mengimplementasikan PBL di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung, diperlukan adanya studi pendahuluan untuk mengetahui apakah PBL bisa diterapkan di jurusan tersebut. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini bisa menjadi input penting bagi jurusan agar PBL dapat diadopsi dan diadaptasi secara sempurna. Selain itu, juga perlu dideteksi benarkah PBL memberi manfaat yang lebih besar daripada sistem pembelajaran konvensional.

Sebab, mahasiswa yang diterima di jurusan tersebut berasal dari lulusan SLTA yang proses belajarnya bersifat teacher-centered (konvensional). Artinya, gurulah yang mendominasi proses belajar mengajar. Anak didik tidak aktif atau dikondisikan agar tidak aktif. Hal ini kontras dengan PBL yang bersifat student-centered. Akibatnya, motivasi mahasiswa untuk belajar lebih tinggi daripada motivasi mahasiswa yang belajar dengan menggunakan sistem konvensional (Sugiharto, 2000). Salah satu indikator atau outcome dari motivasi tinggi adalah nilai ujian yang tinggi pula.

PROBLEM-BASED LEARNING

Problem-Based Learning (PBL) diperkenalkan pertama kali di Fakultas Kedokteran Universitas MacMaster di Hamilton, Canada. Setelah itu, PBL mulai diadopsi di berbagai disiplin ilmu (Moust, 2001; Peterson, 1997; Camp, 1996).

Menurut Howard Barrows (dalam Moust, 2001), PBL secara simultan mampu mendukung tiga tujuan penting dari pendidikan tinggi, yaitu: 1) akuisisi pengetahuan, yang bersifat “retained and usable”; 2) self-directed learning; dan 3) belajar untuk menganalisis serta menyelesaikan masalah.

Potensi keunggulan tersebut dapat dicapai bila anak didik/siswa mengadopsi perilaku pembelajaran yang aktif. Hal ini dapat dicapai dengan mendemonstrasikan rasa ingin tahu terhadap suatu masalah yang dihadapi, selalu mengasah pengetahuan yang dibutuhkan, dan mendapatkan pengetahuan serta ketrampilan baru melalui analisis yang mendalam terhadap suatu masalah. Dengan demikian, pembelajaran merupakan kegiatan akuisisi, retensi, dan recall terhadap pengetahuan dalam konteks spesifik serta berhubungan erat dengan masalah tertentu. Tidak sekedar mendapatkan secara mudah dari membaca buku (Moust, 2001).

PBL mengasumsikan bahwa siswa mampu belajar tanpa harus dibantu, tanpa harus disuapi oleh guru/dosen. Dengan perkataan lain, PBL memberi penekanan kepada siswa untuk melakukan “self-directed learning” (Deretchin, 1998). Hal ini tidak mudah, sebab kondisi tersebut menuntut disiplin yang tinggi dari siswa (Debbie, 2000).

Tentu saja, guru/dosen juga memiliki tanggung jawab tertentu. Mereka harus dapat menyampaikan subyek pembelajaran yang dapat diakses oleh siswa secara efektif. Mereka harus membuat modul pembelajaran yang mudah dipahami dan mendemontrasikan relasi yang kuat dengan bidang studi lain. Artinya, problem yang dibuat (dalam bentuk modul) tidak boleh terlalu sempit konteksnya. Selain itu, karena kegiatan perkuliahan dibatasi seminimal mungkin maka guru/dosen berfungsi sebagai tutor. Sebagai tutor, mereka harus memastikan bahwa tugas/problem yang mereka berikan dirancang pada level yang memadai.

Jadi, siswa yang bekerja dengan PBL harus berinteraksi dengan tutor dan dengan rekan satu kelompoknya. Diskusi merupakan kegiatan inti dari PBL (Moust, 2001; Mok, 2000; Camp, 1996). Siswa belajar dari dan dengan siswa lain. Juga dari dan dengan tutor. Pembelajaran tidak lagi bersifat uni-direksional (guru/dosen ke siswa), tetapi bersifat multi-direksional (Peterson, 1997). Terjadi interaksi yang intensif dengan orang lain. Selalu terjadi pertemuan, interaksi, riset, klarifikasi, memutuskan dan melakukan brainstorming dalam proses PBL ( Mok, 2000).

Oleh karena itu, siswa yang ingin berhasil dalam proses pembelajaran berbasis PBL harus memiliki tiga kemampuan,yaitu: 1) kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan pendekatan secara metodis terhadap tugas dan masalah; 2) kemampuan yang dibutuhkan melakukan tutorial secara benar; 3) kemampuan yang dibutuhkan untuk “carry out” aktivitas individu (Moust, 2001).

Sebagai alternatif dari pengajaran yang bersifat konvensional, PBL memiliki keunggulan sebagai berikut (Greening, 1998; Lai & Tang, 2000): meningkatkan retensi informasi, mengembangkan knowledge base yang terintegrasi (daripada discipline-bound), mendorong terbentuknya pembelajaran seumur hidup, meningkatkan motivasi, serta meningkatkan relasi diantara para siswa didik

METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan dilaksanakan di dua kelas, kelas A dan kelas B. Mata kuliah yang diajarkan adalah Manajemen Perkantoran. Mahasiswa kelas A berjumlah 30 mahasiswa. Jumlah tersebut lalu didistribusikan menjadi 5 kelompok. Jadi setiap kelompok terdiri dari 6 orang. Untuk mahasiswa kelas B hal tersebut tidak berlaku.

Setelah mereka selesai mempelajari topik “Dasar-dasar Manajemen Perkantoran” (selama 2 minggu) yang disampaikan secara konvensional (lecture-centered), mahasiswa kelas A dan B mendapatkan tes yang pertama (T1). Tes tersebut berbentuk esai. Setelah itu, proses diskusi-PBL akan dijelaskan kepada mahasiswa kelas A. Mahasiswa kelas A wajib mendiskusikan kasus/problem dengan menggunakan tujuh langkah diskusi PBL dari Moust (2001: 30), yaitu:

1.

Clarify unclear terms and concepts.

2.

Define the problem.

3.

Analyse the problem.

4.

Order your ideas and systematically analyse them in depth.

5.

Formulate learning objectives.

6.

Seek additional information outside the group from other resources.

7.

Synthesise and test the new information.

Setiap kelompok akan mendiskusikan dua kasus yang dikembangkan oleh peneliti. Setiap kelompok wajib mendiskusikan setiap kasus sebanyak tiga kali. Setiap minggu terdiri dari dua diskusi, masing-masing selama dua jam pelajaran @ 50 menit. Setelah melaksanakan tiga kali diskusi, setiap kelompok wajib mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas masing-masing. Presentasi berlangsung selama 25 menit/kelompok. Secara total, mahasiswa kelas A mengimplementasikan kegiatan PBL selama 4 minggu.

Untuk mahasiswa kelas B, kegiatan perkuliahan tetap berjalan seperti biasa, bersifat teacher-centered.

Setelah berjalan empat minggu, mahasiswa kelas A dan B mengikuti ujian esai dengan menggunakan soal yang sama. Hasil ujian diberi kode T2.

Untuk menganalisis apakah T1 dan T2 dari kelas A dan B memiliki perbedaan yang signifikan, digunakan uji-t ( t-test).

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Nilai rata-rata ujian dari 29 mahasiswa (kelas A dan kelas B; pada saat ujian T1 dan T2, tidak seluruh mahasiswa bisa mengikuti ujian) mengindikasikan bahwa mahasiswa kelas A memiliki nilai rata-rata lebih baik daripada nilai rata-rata mahasiswa kelas B (Tabel 1).

Sumber: hasil olah data

Akan tetapi, untuk mendeteksi apakah perbedaan nilai rata-rata tersebut signifikan, diperlukan analisis yang lebih mendalam. Untuk itu dipergunakan uji-t.

Sumber: hasil olah data

Berdasarkan uji-t, terlihat bahwa perbedaan nilai rata-rata tersebut ternyata tidak signifikan (>0,05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada mahasiswa kelas A dan kelas B memiliki bekal yang sama setelah mengikuti dua minggu kuliah secara konvensional.

Selanjutnya, untuk mengetahui adalah proses pembelajaran PBL memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional, hasil ujian (T2) antara kelas A dengan B diperbandingkan (lihat Tabel 3).

Terlihat nilai rata-rata mahasiswa kelas A (67,55) lebih tinggi daripada nilai rata-rata mahasiswa kelas B (64,07).

Sumber: hasil olah data

Seperti halnya perlakuan untuk T1, T2 juga diuji dengan uji-t untuk mendeteksi apakah perbedaan nilai rata-rata tersebut signifikan atau tidak.

Sumber: hasil olah data

Karena hasi uji-t menyatakan bahwa nilai rata-rata mahasiswa kelas A secara signifikan berbeda dengan nilai rata-rata mahasiswa kelas B, maka dapat diartikan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan sistem PBL memberikan hasil yang lebih optimal daripada sistem konvensional.

Seperti yang dikatakan oleh McClelland (dalam Winardi, 2001), ciri orang berprestasi tinggi adalah mereka yang menyukai situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, bukan karena faktor lain. Dengan PBL, mahasiswa bisa melakukan hal tersebut. PBL memberikan ruang yang sangat luas bagi mahasiswa agar dapat menggali seluruh potensinya tanpa harus didikte oleh dosen.

Peran dosen sebagai tutor menyebabkan dosen tidak lagi menyuapi mahasiswa dengan sekian banyak informasi. Mahasiswa mulai belajar untuk bertanggung jawab. Situasi ini ternyata direspon secara positif oleh mahasiswa, mereka merasa tertantang. Selain itu, kegiatan perkuliahan tidak lagi membosankan. Proses pembelajaran terjadi melalui media diskusi dengan teman sekelas.

Akan tetapi, untuk mendapatkan bukti yang lebih akurat penelitian tentang PBL perlu dilakukan dalam waktu yang lebih lama, misal: satu semester. Sebab, dengan implementasi yang cukup lama bisa dideteksi apakah outcome yang diperoleh benar-benar berasal dari proses pembelajaran PBL. Selain itu juga perlu dideteksi persepsi mahasiswa terhadap proses pembelajaran PBL. Benarkah mahasiswa benar-benar merasa nyaman dengan proses tersebut. Sebab, bisa jadi mahasiswa di perguruan tinggi lain memiliki karakteristik yang berbeda dengan mahasiwa di Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Bandung. Hal ini berguna agar PBL tidak diadopsi secara mentah-mentah, perlu juga dilakukan penyesuaian agar sesuai dengan kondisi mahasiswa di Indonesia. Kultur pembelajaran yang didapat dari SD s.d SLTA tentu saja tidak bisa dirubah secara cepat. Terlebih lagi keterbatasan sumber-sumber pembelajaran juga bisa menghambat proses PBL, misal: perpustakaan yang tidak lengkap dan akses internet yang sangat lambat. Masalah finansial juga bisa menjadi penghambat, sebab: untuk mendapatkan sumber-sumber pembelajaran tidak semuanya bisa diperoleh secara gratis. Jadi, dengan mempertimbangkan hambatan-hambatan tersebut penelitian yang lebih mendalam diharapkan mampu menghasilkan proses pembelajaran berbasis PBL secara optimal.

KESIMPULAN

Walaupun tidak dilakukan secara intensif, uji coba proses pembelajaran berbasis PBL ternyata menghasilkan outcome berupa nilai rata-rata ujian yang secara signifikan jauh lebih baik daripada nilai rata-rata mahasiswa yang belajar dengan menggunakan metoda konvensional.

Oleh karena itu, penelitian ini bisa menjadi pemicu untuk melakukan penelitian yang lebih luas cakupannya. Hal tersebut berguna untuk mengetahui keuntungan yang didapat dari proses pembelajaran berbasis PBL. Benarkah PBL memiliki keunggulan dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat teacher-centered.


[1] Peribahasa China kuno (Breton, 1999)

Tags:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: